PASAR ACEH

PASAR ACEH
suasana dipagi hari di pasar aceh

Kamis, 06 Desember 2012

Makalah Filsafat Islam


1. PENGERTIAN FILSAFAT ISLAM

   1. Arti Filsafat Islam
Istilah filsafat dapat ditinjau dari dua segi,yaitu:
-          Segi semantic:perkataan filsafat berasal dari kata arab falsafah,yang berasal dari kata yunani, philosophia,yang berarti philos= cinta,suka (loving), dan Sophia =pengetahuan hikmah (wisdom). Jadi philosophia berarti cinta kepada kebijakan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher,dalam bahasa arab failasuf. Pencinta pengetahuan adalah orang yang menjadikan  pengetahuan sebagai tujauan hidupnya,atau dengan perkataan lain,mengabadikan dirinya kepada pengetahuan,
-          Segi praktis: dilihat dari pengetahuan praktisbya, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir,berfilsafat artinya berfikir. Namun, tidak semua berpikir berarti berfilsafat . berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa: setiap manusia adalah filsuf. Semboyan ini benar juga,sebabsemua manusia berpikir. Akan tetapi, semboyan ini tidak benar, tidak semua manusia berpikir adalah filsuf.[1]
2. Beberapa Definisi
·         Plato (427 SM-347 SM) ,filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli)
·         Aristoteles (382 SM-322 SM) mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran,yng didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika,logika,retorika,etika,ekonomi,politik dan estotika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
·         Marcus tullius Cicero (106 SM-43 SM),politikus dan ahli pidato romawi,merumuskan: filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaaha-usaha untuk mencapainya.
·         Al-farabi (wafat 950),filsuf muslim terbesar sebelum Ibnu Sina,mengatakan:filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
·         Immanuel kant (1724-1804),yang sering disebut raksasa pikiran barat,mengatakan:filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup didalam empat persoalan,yaitu:
- Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika).
- Apakah yang boleh kita kerjakan? (dijawab oleh etika).
- Sampai dimana pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi).
-          Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI,menyimpulkan: Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnaya suatu hal yang hendak dimasalahkan.dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.[2]
3. Tujuan, Fungsi, dan Manfaat Filsafat
            Menurut Harold H. Titus,filsafat adalah suatu usaha untuk memahami alam semesta,makna dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah control, dan tujuan seni adalah kreativitas,kesempurnaan,bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi,maka tujuan fisafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisnom).
            Dr. Oemar A.Hoesin mengatakan: ilmu member kepada kita pengetahuan, dan fisafat member hikmah. Filsafat member kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusundengan tertip,akan kebebaran.
            Radhakrishnan dalam bukunya, History of philosophy menyebutkan: tugas filsafat bukan lah sekedar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup,melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif,menetapkan nilai,menetapkan tujuan,menentukan arah dan menentukan jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menopang dunia baru,mencetak manusia-manusia yang menjadi penggolongan-penggolonganberdasarkan nation,ras dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal,baik dalam lingkungannya maupun dalam semangatnya.
            Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berfikir) etika (berprilaku),maupun metafisiska (hakikat keaslian).[3]
4. Filsafat,  Agama, dan Ilmu Pengetahuan
1)    Filsafat dan Agama
Filsafat
1.    Filsafat berarti berpikir, jadi yang penting ialah ia dapat berpikir.
2.    Menurut William Temple, filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk memahami.
3.    C.S>Lewis membedakan enjoyment dan contemplation misalnya laki-laki mencintai perempuan. Rasa cinta disebut enjoyment,sedangkan memikirkan rasa cintanya disebut contemplation, yaitu pikiran sipencinta tentang rasa cintanya itu.
4.    filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang.
5.    Filsafat dapat diumpamakan seperti airtelaga yang tenang dan jernih dan dapat dilihat dasarnya.
Agama
1.    Agama berarti mengabdikan diri,jadi yang penting ialah hidup secara beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu.
2.    Agama menuntut pengetahuan untuk beribadat yang terutama merupakan hubungan manusia dengan tuhan.
3.    Agama dapat diliaskan dengan enjoyment atau rasa cinta seseorang, rasa pengabdian (dedication) atau contentment.
4.    Agama banyak berhubungan dengan hati.
5.    Agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya.[4]

2)    Filsafat dan ilmu pengetahuan
Apakah hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan?oleh Lois Kattsoff dikatakan: bahasa yang dipakai dalam filsafat  dan ilmu pengetahuan  dalam beberapa hal saling melengkapi .hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat  mencoba untuk berbicara mengenai ilmu pengetahuan ,dan bukan didalam ilmi pengetahuan. Namun, apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuan mungkin penting pula bagi seorang filsuf.
Dalam hubungan ini Harold H.Titus menerapkan ilmu pengetahuan mengisi filsafat  dengan sejumlah besar materi actual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam membina suatu filsafat. Banyak ilmuan yang juga filsuf. Para filsuf terlatih didalam metode ilniah, dan seringpula menuntun minat khusus dalam beberapa ilmu sebagai berikut:
1.    Historis, mula-mula filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagai mana juga filsuf identik dengan ilmuan.
2.    Objek material ilmu adalah alam dan manusia.sedamg objek material filsafat adalahalam,manusia, dan ketuhanan.

3)    Bedaya Filsafat dengan Ilmu-Ilmu Lain
1.    Filsafat menyelidiki,membahas,serta memikirkan seluruh alam kenyataan, dan menyelidiki bagaimana hubungan kenyataan satu sama lain. Jadi ia memandang satu kesatuan yang belum dipecah-pecah serta pembahasannya secara keseluruhan . sedangkan ilmu-ilmu lain atau ilmu vak menyelidiki hanya sebagian hanya sebagian saja dari alam maujud ini, misalnya ilmu hanya membicarakan tentang hewan,tumbuh-tunbuhan, dan manusia; ilmu bumi membicarakan tentang kota, sungai, hasil bumi, dan sebagainya.
2.    Filsafat tidak saja menyelidiki tentang sebab akibat, tetapi menyelidiki hakikatnya sekaligus. Sedangkan ilmu vak membahas tentang sebab dan akibat suatu peristiwa.
3.    Dalam pembahasan filsafat menjawab apa ia sebanarnya,darimana asalnya, dan hendak kemana perginya. Sedangkan ilmu vak harus menjawab pertanyaan bagaimana dan apa sebabnya.[5]
5.  Pengertian Filsafat Islam
            Al-Farabi  berkata: failasuf adalah orang yang menjadikan seluruh kesungguhan  dari kehidupannya dan seluruh maksud dari umurnya mencari hikmah yaitu mema’rifati Allah yang mengandung pengertian mema’rifati kebaikan.
            Ibnu Sina mengatakan hikmah adalah mencari kesmpurnaan diri manusiadengan dapat menggambarkan  segala urusan dan membenarkan segala hakikat baik yang bersifat teori maupun praktis menurut kadar kemampuan manusia.
            Sampailah kita pada pengertian filsafat islam yang merupakan gabungan dari filsafat dan islam. Menurut mustofa Abdul Razak, Filsafat islam adalah filsafat yang tumbuh di negri islam  dan dibawah naungan negeri islam, tanpa memandang agama dan bahasa-bahasa pemiliknya. Pengertian ini diperkuat oleh Prof. Tata Chnd, bahwa orang-orang nasrani dan yahudi yang telah menulis kitab-kitan filsafat yang bersifat kritis atau terpengaruh oleh islam sebaiknya dimasukkan ke dalam filsafat islam.
Dengan uraian diatas  maka dapatlah disimpulkan bahwa filsafat islam adalah suatu ilmu yang dicelup ajaran islam dalam membahas hakikat kebenaran  segala sesuatu.[6]
6. Obyek Filsafat Islam
            Telah disebutkan bahwa objek filsafat islam adalah menelaah hakikat tentang Tuhan, tentang manusia dan tentang segala realitas yang Nampak dihadapan manusia. Ada beberapa per soalan yang biasa dikedepankan dalam mencari obyek filsafat meskipun akhirnya tidak akan lepas dari ketiga hal itu,yaitu:
-          Dari apakah benda-benda dapat berubah menjadi lainnya, seperti perubahan oksigen dan hydrogen menjadi air?
-          Apakah jaman itu yang menjadi ukuran gerakan dan ukuran wujud semua perkara
-          Apakah bedanya makhluk hidup dengan makhluk yang tidak hidup?
-          Apakah cirri-ciri khas makhluk hidup itu?
-          Apa jiwa itu?jika jiwa itu ada,apakah jiwa manusia itu abadi atau musnah?
-          Dan masih ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang lain.

Persoalan-persoalan tersebut membentuk ilmu fisika dan dari sini kita meningkat kepada ilmu yang lebih umum ialah ilmu metafisika, yang membahas tentang wujud pada umumnya, tentang sebab wujud, tentang sifat zat yang mengadakan. Dari sini kita bisa menjawab pertanyaan: Apakah alam semesta ini wujud dengan sendirinya ataukah ia mempunyai sebab yang tidak nampak?

Kemudian kita dapat membuat obyek pembahasa lagi, yaitu pengetahuan/pengenalan itu sendiri, cara-cara dan syarat-syarat kebenaran atau salahnya, dan dari sini maka keluarlah ilmu logika (ilmu mantiq) yang tidak ada kemiripannya dengan ilmu-ilmu positif. Kemudian kita melihat kepada akhlak dan apa yang seharusnya diperbuat oleh perorangan, keluarga dan masyarakat, yang berbeda dengan ilmu. Sosiologi lebih menekankan kepada pengertian tentang gejala-gejala kemasyarakatan dan hubungannya, tanpa meneliti apa yang seharusnya terjadi.

Dari uraian ini, maka filsafat sebagai ilmu yang mengungkap tentang wujud-wujud melalui sebab-sebab yang jauh, yakni pengetahuan yang yakin yang sampai kepada munculnya suatu sebab. Ilmu terhadap wujud-wujud itu adalah bersifat keseluruhan, bukan terperinci, karena pengetahuan secara terperinci menjadi lapangan ilmu-ilmu khusus. Oleh karena sifatnya keseluruhan, maka filsafat hanya membicarakan benda pada umumnya atau kehidupan pada umumnya.

Dengan demikian filsafat mencakup seluruh benda dan semua yang hidup yakni pengetahuan terhadap sebab-sebab yang jauh yang tidak perlu lagi dicari sesudahnya. Filsafat berusaha untuk menafsirkan hidup itu sendiri yang menjadi sebab pokok bagi partikel-partikel itu beserta fungsi-fungsinya. Cakupan filsafat Islam tidak jauh berbeda dari objek filsafat ini. Hanya dalam proses pencarian itu Filsafat Islam telah diwarnai oleh nilai-nilai yang Islami. Kebebasan pola pikirannya pun digantungkan nilai etis yakni sebuah ketergantungan yang didasarkan pada kebenaran ajaran ialah Islam.[7]
2.HUBUNGAN FILSAFAT ISLAM DENGAN FILSAFAT YUNANI

Proses sejarah masa lalu, tidak dapat dielakkan begitu saja bahwa pemikiran filsafat Islam terpengaruh oleh filsafat Yunani. Para filosuf Islam banyak mengambil pemikiran Aristoteles dan mereka banyak tertarik terhadap pemikiran-pemikiran Platinus. Sehingga banyak teori-teori filosuf Yunani diambil oleh filsuf Islam.

Demikian keadaan orang yang dapat kemudian. Kedatangan para filosuf Islam yang terpengaruh oleh orang-orang sebelumnya, dan berguru kepada filsuf Yunani. Bahkan kita yang hidup pada abad ke-20 ini, banyak yang berhutang budi kepada orang-orang Yunani dan Romawi. Akan tetap berguru tidak berarti mengekor dan mengutip, sehingga dapat dikatakan bahwa filsafat Islam itu hanya kutipan semata-mata dari Aristoteles, sebagaimana yang dikatakan oleh Renan, karena filsafat Islam telah mampu menampung dan mempertemukan berbagai aliran pikiran. Kalau filsafat Yunani merupakan salah satu sumbernya, maka tidak aneh kalau kebudayaan India dan Iran juga menjadi sumbernya. Pertukaran dan perpindahan suatu pikiran bukan selalu dikatakan utang budi. Suatu persoalan dan hasilnya dapat mempunyai bermacam-macam corak. Seorang dapat mengemukakan persoalan yang pernah dikemukakan oleh orang lain sambil mengemukakan teorinya sendiri. Spinoza, misalnya, meskipun banyak mengutip Descartes, ia mempunyai mahzab sendiri. Ibnu Sina, meskipun menjadi murid setia Aristoteles, ia mempunyai pemikiran yang berbeda-beda.

Para filsuf Islam pada umumnya hidup dalam lingkungan dan suasana yang berbeda dari apa yang dialami oleh filsuf-filsuf lain. Sehingga pengaruh lingkungan terhadap jalan pikiran mereka tidak bisa dilupakan. Pada akhirnya, tidaklah dapat dipungkiri bahwa dunia Islam berhasil membentuk filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.
Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu-ilmu Islam

Keunggulan khusus bagi filsafat Islam dalam masalah pembagian cabang-cabangnya adalah mencakup ilmu kedokteran, biologi, kimia, musik ataupun falak yang semuanya menjadi cabang filsafat Islam. Sehingga hal ini menjadi nilai lebih bagi filsafat Islam. Dengan demikian filsafat Islam secara khusus memisahkan diri sebagai ilmu yang mandiri. Walaupun hasil juga ditemukan keidentikan dengan Pemandangan orang Yunani (Aristoteles) dalam masalah teori tentang pembagian filsafat oleh filosuf-filosuf Islam.

Filsafat memasuki lapangan-lapangan ilmu ke-Islaman dan mempengaruhi pembatas-pembatasnya. Penyelidikan terhadap keilmuan meliputi kegiatan filsafat dalam dunia Islam. Dan yang menjadi perluasan ilmu dengan tidak membatasi diri dari hasil-hasil karya filosuf Islam saja, tetapi dengan memperluas pembahasannya. Hasil ini meliputi ilmu kalam, tasawuf, ushul fiqh dan tarikh tasyri’.

Para ulama Islam memikirkan sesuatu dengan jalan filsafat ada yang lebih berani dan lebih bebas daripada pemikiran-pemikiran mereka yang biasa dikenal dengan nama filosuf-filosuf Islam. Di mana perlu diketahui bahwa pembahasan ilmu kalam dan tasawuf banyak terdapat pemikiran dan teori-teori yang tidak kalah teliti daripada filosuf-filosuf Islam.

Pemikiran Islam mempunyai ciri khas tersendiri dibanding dengan filsafat Aristoteles, seperti halnya pemikiran Islam pada ilmu kalam dan tasawuf. Demikian pula pada pokok-pokok hukum Islam (tasyri’) dan Ushul Fiqh juga terdapat beberapa uraian yang logis dan sistematis dan mengandung segi-segi kefilsafatan. Syekh Mustafa Abdur Raziq adalah orang yang pertama mengusulkan ilmu Fiqh menjadi bagian dari filsafat. Berikut ini ada beberapa hubungan filsafat Islam dengan Ilmu Tasawuf, Ilmu Fiqh, dan Ilmu Pengetahuan:

Filsafat Islam dengan Ilmu Kalam
Problem yang ada terhadap filsafat Islam, apakah identik dengan Ilmu Kalam? Ataukah sebagai ilmu yang berdiri sendiri? Apakah ilmu kalam itu sebagai cabang dari filsafat?
Ada beberapa pendapat ahli yang mencoba menjawab pertanyaan di atas antara lain:
Dr. Fuad Al-Ahwani di dalam bukunya Filsafat Islam tidak setuju kalau filsafat sama dengan ilmu kalam. Dengan alasan-alasan sebagai berikut:
Karena ilmu kalam dasarnya adalah keagamaan atau ilmu agama. Sedangkan filsafat merupakan pembuktian intelektual. Obyek pembahasannya bagi ilmu kalam berdasar pada Allah SWT. dan sifat-sifat-Nya serta hubungan-Nya dengan alam dan manusia yang berada di bahwa syariat-Nya. Objek filsafat adalah alam dan manusia serta pemikiran tentang prinsip wujud dan sebab-sebabnya. Seperti filosuf Aristoteles yang dapat membuktikan tentang sebab pertama yaitu Allah. Tetapi ada juga yang mengingkari adanya wujud Allah SWT. sebagaimana aliran materialisme.

Ilmu kalam adalah suatu ilmu Islam asli yang menurut pendapat paling kuat, bahwa ia lahir dari diskusi-diskusi sekitar Al-Qur’an yaitu Kalam Allah, apakah ia Qadim atau makhluk. Perbedaan pendapat terjadi antra Kaum Mu’tazilah, pengikut Ahmad bin Hambal dan pengikut-pengikut Asy’ari. Adapun filsafat adalah istilah Yunani yang masuk ke dalam bahasa Arab sebagai penegasan Al-Farabi bahwa nama filsafat itu berasal dari Yunani dan masuk ke dalam bahasa Arab.

Pada Abad 2 H, telah lahir filsafat Islam, dengan bukti adanya filosuf-filosuf Islam seperti Al-Kindi.

Di samping itu, di kalangan ahli ilmu kalam sudah ada ahli yang terkenal seperti Al-Annazam, Al-Jubbai, Abul-Huzail Al-‘Allaf. Para ahli ilmu kalam ini tidak ada yang menamakan diri sebagai filosuf. Dan ada pertentangan tajam di antara kedua belah pihak. Sebagaimana Al-Ghazali sebagai pengikut aliran Asy’ariyah yang menulis kitab Tahafutul Falasifah. Namun dari kalangan ahli filsafat, Ibnu Rusyd menjawab terhadap tuduhan itu dengan menulis: Tahafutul Al-Tahafuit (Inkosistensinya kitab Tahafut).
Prof. Tara Chana
Dia mengemukakan bahwa istilah filsafat Islam adalah untuk arti dari ilmu kalam. Ia lebih lanjut menyatakan bahwa filsafat itu telah lahir dari kebutuhan Islam dan perdebatan keagamaan dan pada dasarnya mementingkan pengukuhan landasan aqidah atau mencarikan dasar filosofisnya, ataupun untuk membangun pemikiran-pemikiran theologi keagamaan.
Prof. Fuad Al-Ahwani
Ia mengakui, bahwa sekolah pada abad ke-6 H, filsafat telah bercampur dengan ilmu kalam, sampai yang terakhir ini telah menelan filsafat sedemikian rupa dan memasukkannya di dalam kitab-kitabnya. Sehingga kitab-kitab tauhid yang membahas ilmu kalam didahului dengan pendahuluan mengenai logika Aristoteles dengan mengikuti cara para filosuf.[8]






[1] Mutofa.A,Filsafat Islam:  CV. Pustaka Setia,Bandung,1997.hal:9
[2] Ibid.hal:10
[3] Ibid.hal:12
[4] Ibid.hal:14
[5] Ibid.hal:15
[6] Ibid.hal:15-16
[7] Ibid.hal:18-20
[8] Ibid.hal:20-23

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar